Pemberdayaan Masyarakat Surabaya Terbaik Versi Pro Poor Award

An,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Warta Metropolis Surabaya :Pemerintah Kota Surabaya mendapatkan penghargaan dalam Lomba Karya Penanggulangan Kemiskinan (Pro Poor Award). Penghargaan tersebut diserahkan oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo kepada Walikota Surabaya, yang saat itu diwakili oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya Hendro Gunawan, di DBL Arena, Selasa (20/11) malam. Pro Poor Award (PPA) merupakan program pemerintah propinsi dalam rangka menilai peran kabupaten/kota terhadap pengentasan kemiskinan. Tahun ini, Pemkot Surabaya dinobatkan sebagai yang terbaik untuk kategori Bidang Pemberdayaan Masyarakat.
Hal itu ditetapkan dalam surat keputusan Gubernur Jatim bernomor 188/618/KPTS/013/2012.Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas & KB) Kota Surabaya Antiek Sugiharti menuturkan, pada penyelenggaraan tahun lalu, Surabaya berhasil menyabet penghargaan dalam tiga kategori, yakni perorangan, non-pemerintah, dan pemerintah. Namun, tahun ini, sistemnya sedikit diubah. Khususnya, untuk kategori pemerintah yang dibagi lagi menjadi tiga kelompok. Diantaranya berdasarkan bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi. “Nah, kita dapatnya yang kategori pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.Dijelaskan Antiek, penilaian dilakukan secara independen yang melibatkan para pakar dan akademisi. Indikator penting yang mendapat perhatian dari tim penilai salah satunya terkait peran aktif dan kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menggerakkan masyarakat miskin menjadi berdaya. Ia menjelaskan, sejatinya program-program Pemkot Surabaya sebagian besar sudah berlandaskan semangat pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan yang dimaksud Antiek tidak hanya bicara masalah ekonomi semata, melainkan ada pula faktor-faktor lingkungan, sosial, pendidikan, dan lain sebagainya. “Jadi pemberdayaan itu secara umum, yang menyangkut aspek-aspek kehidupan masyarakat,” papar Antiek.Mantan Kabag Kerjasama ini memisalkan, kebijakan pembebasan uang sekolah menjadi salah satu intervensi pemkot di bidang pendidikan. Disamping itu, beragam pelatihan juga digelar dengan tujuan memberdayakan masyarakat agar dapat mandiri memenuhi kebutuhannya. “Bagaimana yang dulunya tidak bekerja, setelah Pemkot melakukan intervensi melalui pembinaan dan pelatihan, mereka bisa berdaya dan menjalankan suatu usaha mandiri,” imbuhnya. Program-program tersebut, lanjut Antiek, merupakan bentuk kepedulian pemerintah kota terhadap peningkatan derajat hidup warganya. Ia menyatakan, program-program serupa tidak akan berhenti, sebaliknya ke depan upaya pemberdayaan masyarakat akan terus ditingkatkan, misalnya pemberian makanan tambahan bagi lansia yang tergolong program baru. “Peningkatan kualitas hidup masyarakat merupakan hal yang kompleks, bukan tanggung jawab satu SKPD. Untuk itu, upaya-upaya yang dilakukan pemkot melibatkan seluruh SKPD terkait,” pungkas Antiek./hms/sny

Warta Metropolis Surabaya :Pemerintah Kota Surabaya mendapatkan penghargaan dalam Lomba Karya Penanggulangan Kemiskinan (Pro Poor Award). Penghargaan tersebut diserahkan oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo kepada Walikota Surabaya, yang saat itu diwakili oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya Hendro Gunawan, di DBL Arena, Selasa (20/11) malam. Pro Poor Award (PPA) merupakan program pemerintah propinsi dalam rangka menilai peran kabupaten/kota terhadap pengentasan kemiskinan. Tahun ini, Pemkot Surabaya dinobatkan sebagai yang terbaik untuk kategori Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Hal itu ditetapkan dalam surat keputusan Gubernur Jatim bernomor 188/618/KPTS/013/2012.Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas & KB) Kota Surabaya Antiek Sugiharti menuturkan, pada penyelenggaraan tahun lalu, Surabaya berhasil menyabet penghargaan dalam tiga kategori, yakni perorangan, non-pemerintah, dan pemerintah. Namun, tahun ini, sistemnya sedikit diubah. Khususnya, untuk kategori pemerintah yang dibagi lagi menjadi tiga kelompok. Diantaranya berdasarkan bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi. “Nah, kita dapatnya yang kategori pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.Dijelaskan Antiek, penilaian dilakukan secara independen yang melibatkan para pakar dan akademisi. Indikator penting yang mendapat perhatian dari tim penilai salah satunya terkait peran aktif dan kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menggerakkan masyarakat miskin menjadi berdaya. Ia menjelaskan, sejatinya program-program Pemkot Surabaya sebagian besar sudah berlandaskan semangat pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan yang dimaksud Antiek tidak hanya bicara masalah ekonomi semata, melainkan ada pula faktor-faktor lingkungan, sosial, pendidikan, dan lain sebagainya. “Jadi pemberdayaan itu secara umum, yang menyangkut aspek-aspek kehidupan masyarakat,” papar Antiek.Mantan Kabag Kerjasama ini memisalkan, kebijakan pembebasan uang sekolah menjadi salah satu intervensi pemkot di bidang pendidikan. Disamping itu, beragam pelatihan juga digelar dengan tujuan memberdayakan masyarakat agar dapat mandiri memenuhi kebutuhannya. “Bagaimana yang dulunya tidak bekerja, setelah Pemkot melakukan intervensi melalui pembinaan dan pelatihan, mereka bisa berdaya dan menjalankan suatu usaha mandiri,” imbuhnya. Program-program tersebut, lanjut Antiek, merupakan bentuk kepedulian pemerintah kota terhadap peningkatan derajat hidup warganya. Ia menyatakan, program-program serupa tidak akan berhenti, sebaliknya ke depan upaya pemberdayaan masyarakat akan terus ditingkatkan, misalnya pemberian makanan tambahan bagi lansia yang tergolong program baru. “Peningkatan kualitas hidup masyarakat merupakan hal yang kompleks, bukan tanggung jawab satu SKPD. Untuk itu, upaya-upaya yang dilakukan pemkot melibatkan seluruh SKPD terkait,” pungkas Antiek./hms/sny

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>