Menggali Potensi Pariwisata

IMG_0175,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Warta Metropolis Pasuruan : Di setiap penghujung Lebaran atau tepatnya di Hari Raya Ketupat masyarakat Kota Pasuruan meluapkan euforia mereka dengan cara naik perahu (perahonan) dengan membayar hanya Rp. 5.000 per orang. Banyak orang berjubel di sepanjang pelabuhan hanya ingin lebih dulu menaiki perahu dan sampai ke tengah laut. Tradisi perahonan terjadi dua kali selama satu tahun yaitu saat Hari Raya Ketupat dan bulan Sa’ban. Di bulan Sa’ban ini perahu-perahu dihias begitu menarik dengan hiasan yang berwarna-warni.

Fenomena di atas merupakan pengembangan khasanah tourism objects yang ada di Kota Pasuruan. Beragam tipe pariwisata yang ada di kota ini mulai dari wisata, religi, wisata budaya, dan wisata tujuan lain masih perlu dikembangkan lebih jauh. Tradisi perahonan merupakan satu langkah menuju upaya penggalian tradisi untuk dijadikan sebagai satu alternatif tujuan wisata lokal yang perlu dilestarikan. Tradisi yang berakar dari local genius akan terus tumbuh karena selalu dipraktikkan terus-menerus.
Dalam penggalian potensi pariwisata tahun ini Pemkot Pasuruan mulai melakukan identifikasi obyek wisata yang ada. Identifikasi dilakukan di beberapa tempat seperti wisata religi: Habib Alwi Assegaf, K.H. Abdul Hamid, Mbah Slagah, Untung Suropati, dll. Disporabudpar Kota Pasuruan seharusnya tidak hanya melakukan identifikasi akan tetapi mengkodifikasikannya dalam bentuk buku pariwisata agar wisatawan yang ingin berkunjung ke Kota Pasuruan bisa memperoleh informasi akurat tentang tempat-tempat yang akan menjadi destinasi mereka.
Selain itu, wisata budaya juga perlu mendapat sentuhan maksimal. Gedung-gedung tua bisa digunakan sebagai aset memikat wisatawan, seperti Gedung Untung Suropati. Namun, peninggalan sejarah lainnya masih perlu terus digali, termasuk karya seni, baik seni tari, kerajinan, patung, dll. Penggalian potensi wisata budaya harus melibatkan sejarawan, para kurator seni, dll. agar hasilnya maksimal. Sekarang, Pemkot Pasuruan memperoleh tradisi baru yang perlu dikembangkan dan diabadikan yaitu tradisi perahonan.
Wisata tujuan lain juga masih perlu digalakkan. Mall-mall, kolam renang, tempat permainan anak-anak, dll. menjadi isu sentral yang perlu dikembangkan. Dipercaya atau tidak, wisata tujuan lain selalu menjadi tren untuk dikunjungi. Setiap bulan puasa datang, misalnya, banyak warga Kota Pasuruan belanja ke luar kota, seperti: Malang, Surabaya, Sidoarjo, dll. hanya untuk memenuhi kebutuhan pakaian baru menjelang Lebaran.
Mencermati paradigma pariwisata di atas, ada banyak hal yang perlu dilakukan Pemkot Pasuruan dalam menggali kearifan lokal sebagai bekal menyusun strategi pariwisata atau pun kebijakan publik lainnya. Untuk menggali potensi pariwisata perlu diadakan kajian secara intensif dan komprehensif dalam bentuk regional mapping untuk menentukan keunggulan lokal apa yang perlu dikembangkan sebagai produk lokal dalam kerangka comparative advantage (keunggulan komparatif).
Dalam menyusun rencana pembangunan pariwisata, hal yang tidak kalah menarik untuk dipertimbangkan adalah akumulasi disparitas tradisi dan budaya yang perlu diseleksi secara seksama agar memperoleh hasil yang menggembirakan. Implementasi proses differensiasi yang memiliki dua substansi: keunikan dan superioritas hendaknya terus dilakukan. Dua hal penting ini akan menjadi kekuatan dalam mempertimbangkan potensi pariwisata di Kota Pasuruan. Bagaimana pun baiknya ide tanpa dukungan kebijakan, hanya akan menjadi akumulasi ide utopis. Semoga hati kita terbuka untuk menerima suatu perubahan ke arah yang lebih baik! Amin. Oleh Agus Harianto, S.Pd., M.M.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>